Menu Close

Korindo Group Bantah Bakar Lahan di Papua untuk Perluasan Kebun Sawit

Korindo grup menentang tuduhan ada sangkaan pembakaran tempat di papua untuk peluasan tempat sawit di papua. Korindo menerangkan. Jika sejauh ini perusahaan sudah lakukan pembukaan tempat dengan mekanisme yang tepat. Terhitung dalam pembebasan tempat.

 

Tuduhan pembakaran tempat ini pertamanya kali menyodok lewat kabar berita bertema “papua: interograsi papar perusahaan korsel ‘sengaja’ membakar tempat untuk peluasan tempat sawit” oleh bbc indonesia pada tanggal 12 november 2020.

Public relations manajer of korindo grup. Yulian mohammad riza melihat ini selaku dakwaan yang serius dna perlu untuk disikapi.

“perlu ditekankan sesungguhnya di tahun 2015. Perusahaan sudah membayar pelepasan hak atas tanah ulayat ke 10 marga selebar 16.000 hektar yang ada di area pt tunas sawa erma blok e sesuai kesepakatan serta jumlah yang sudah disetujui bersama. Terhitung dengan petrus kinggo sebagai pembicara di kabar berita itu.” tutur yulian dalam info yang diterima liputan6.com. Sabtu (14/11/2020).

Yulian menambah. Walau petrus kinggo serta seluruh marga yang lain sudah terima pembayaran ganti rugi pelepasan tempat. Kenyataannya sampai sekarang ini perusahaan tidak pernah lakukan pembukaan tempat di semua area itu. Hingga bisa ditegaskan jika tidak ada hak atas tanah warga yang dilanggar oleh perusahaan.

Tidak itu saja. Yulian menyangsikan kesaksian dari elisabeth ndiwaen yang bukan perwakilan marga yang ada di pt. Dongin prabhawa. Ini sebab yang berkaitan lahir serta dibesarkan di kota merauke. Di mana jaraknya benar-benar jauh seputar 400 km (jalan darat serta sungai) dari posisi perkebunan.

Tetapi selaku wujud loyalitas pada transparan. Perusahaan akan lakukan interograsi pada ke-2 rumor di atas secara dalam serta menyertakan beberapa faksi berkaitan. Proses interograsi ini ditempatkan di dalam metode perlakuan keluh kesah (grievance sistem) korindo.

“berkaitan adanya dakwaan pembakaran rimba dalam masa tahun 2011-2016. Perlu kami terangkan kembali lagi pengakuan the forest stewardship council (fsc) pada agustus 2019 lalu yang mengatakan jika faksi fsc sudah lakukan interograsi di atas lapangan pada desember 2017.” kata yulian.

Hasil simpulan interograsi itu mengatakan dakwaan jika korindo dengan menyengaja serta ilegal membakar area perkebunan. Ialah tidak betul.

Penemuan fsc itu perkuat hasil interograsi yang awalnya sudah dikerjakan oleh dinas kehutanan serta perkebunan kabupaten merauke dengan nomor surat 522.2/0983 tertanggal 24 agustus 2016. Yang mengatakan jika pembukaan tempat dikerjakan secara mekanis serta tiada bakar.

Kecuali ke-2 hasil interograsi itu. Ada surat dari direktorat jenderal penegakan hukum lingkungan hidup serta kehutanan kementerian lhk ri nomor s.43/phlhk/pph/gkm.2/2/2017 tanggal 17 februari 2017 yang mengatakan jika anak perusahaan korindo grup yang beroperasi di sektor perkebunan kelapa sawit tidak lakukan illegal deforestation serta sudah mendapatkan izin pelepasan teritori rimba dari menteri lhk.

“kami pengin memperjelas jika korindo grup ialah perusahaan yang sudah berdiri di indonesia semenjak tahun 1969 serta stabil berperan dalam menolong perubahan serta perkembangan rakyat indonesia. Terutamanya di wilayah papua.”papar yulian.

Indonesia memberi perlawanan pada uni eropa yang dipandang mendiskriminasi produk sawit. Dengan menyampaikan ue ke wto. Wamendag jerry sambuaga mengutarakan fakta serta persiapan indonesia dalam tuntutan ini di wto.

 

error: Content is protected !!