Menu Close

Investasi ke Sektor Industri Naik 37 Persen

Investasi ke Sektor Industri Naik 37 Persen

Menteri perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang menjelaskan, sepanjang wabah covid-19 atau pada masa Januari sampai September 2020, investasi yang masuk di bidang industri capai Rp 201,9 triliun. Angka itu naik 37 % dibanding dengan masa yang serupa tahun 2019.

 

“Nah ini kita dapat saksikan malah di saat wabah ini investasi untuk bidang industri ya masa Januari-September 2020 naik 37 % dibanding dengan masa kemarin. Pada tahun 2020 industri meresap investasi sebesar Rp 201,9 triliun,” kata Agus dalam talkshow Update KPCPEN: Pemulihan Ekonomi Nasional, Senin (9/11/2020).

Oleh karenanya, Kementerian Perindustrian masih pastikan supaya industri masih bekerja di periode wabah ini supaya PHK di bidang industri dapat didesak. Adanya investasi menolong menahan PHK.

“Jadi semenjak awalnya barusan saya berikan kita putar-putar otak, bagaimana bidang industri itu dapat terus bekerja di tengah teror wabah atau virus yang paling berat,” katanya.

Dianya sadar benar jika dengan beroperasinya industri atau beberapa pabrik itu pasti menahan PHK serta menahan pegawai yang diberhentikan. Oleh karenanya dia menggerakkan investasi supaya pabrik masih berjalan hingga peresapan tenaga kerja masih berjalan.

“Jadi investasi-investasi itu adalah keyword untuk kita menahan PHK serta membuat lapangan pekerjaan baru,” ucapnya.

Agus memperjelas semenjak awalnya faksinya agresif serta sadar benar jika ekonomi lewat aktivitas industri ini jangan tertinggal, meskipun di satu segi perlakuan kesehatan itu harus di muka sesaat bidang industri harus mengikut secara ketat ada di belakang.

“Jadi saat ini belum waktunya untuk bidang industri dapat bisa menyusul bidang kesehatan, tetapi ia jangan jauh tertinggal dari bidang Kesehatan, bidang industri ini yang benar-benar semenjak awalnya kami coba bereskan,” ujarnya.

Awalnya, periset Indef, Bhima Yudhistira memandang performa investasi tidak dapat menyokong perkembangan ekonomi di periode wabah Covid-19.

Ini tidak searah dengan kampanye pemerintahan yang pengin memikat relokasi industri serta Omnibus Law Cipta Kerja.

“Performa investasi tidak searah dengan kampanye masif pemerintahan untuk memikat relokasi industri serta Omnibus Law Cipta Kerja,” kata Bhima di Jakarta, Kamis (5/11/2020).

Ini tercermin pada perkembangan investasi (PMTB) terevisi sampai -6,48 %. Berarti ada tanda-tanda permasalahan penting investasi sekarang ini pada banyak hal.

Dimulai dari perlakuan wabah, pembaruan daya membeli, pembasmian korupsi serta pengurangan ongkos logistik. Bermacam permasalahan ini katanya harus selekasnya ditangani untuk menggerakkan perkembangan ekonomi kembali lagi sembuh.

“Permasalahan esensial itu banyak yang tidak selekasnya ditangani oleh pemerintahan,” kata Bhima.

Bagian lain, pergerakan perkembangan industri manufacturing tidak ada pembaruan yang berarti. Sekarang ini masih berada di tingkat negatif jadi -4,3 %.

“Tanda-tanda bidang manufacturing masih alami desakan yang cukup dalam bersamaan belum sembuhnya keinginan dalam serta pasar export,” katanya.

Disamping itu bidang tradable (produksi barang) lemas serta bantuan pada PDB condong turun. Industri manufacturing masih ada di bawah 20 % dari PDB. Bidang pertanian alami pengurangan dari 15,4% % pada kuartal ke II 2020 jadi 14,6 % di kuartal ke III.

Sesaat bidang non-tradable atau layanan makin memimpin ekonomi. Bhima memberikan contoh bidang layanan info komunikasi ada di atas 4,5 % serta layanan konstruksi 10,6 % dari PDB.

Kualitas perkembangan ekonomi yang turun akan memberikan ancaman resapan kerja di tahun 2021. Karena bidang non-tradable serapannya condong lebih rendah dibanding bidang tradable atau pemroduksi barang seperti industri pemrosesan serta pertanian.

Pemerintahan disuruh menimbang secara masak berkaitan wawasan peningkatan harga rokok jadi Rp 50 ribu ‎per buntel. Karena, peningkatan harga ini bukanlah cuman memberikan ancaman industri rokok, dan juga beberapa pekerjanya dan petani tembakau.

error: Content is protected !!